Jumat, 26 Juni 2009

seperti doa

puisiku menjalar kawah kawah gundah
mengesak pada dinding dinding kesah
menggelantung di ujung lidah
lalu menari di setiap lentik jari

puisiku seperti doa;
berkelana
menawarkan segala warna kebuncahan
yang selalu menyela dalam kehidupan

puisiku
bagai peluru yang membunuh kutukan
peluru yang meliuk
menancap di langit tinggi
memecah cakrawala lalu
mengeluarkan beban yang ada
hingga mulut rontok tak berasa

seperti doa
puisiku keluar melewati jendela jendela yang usang
terbang mengambang
di riak katakata
lalu berkumpul di rak rak persimpuhan

Surat Malam

Aku mencintai gemericik angin
Aku mencintai denting daun
Aku mencintai malam
Sebab siang jalan penuh umpatan

Aku mencintai degup rembulan
Aku mencintai celoteh jangkrik
Aku mencintai malam
Sebab siang menawarkan kebohongan

Aku mencintai malam
Yang riuh nyanyian alam
Dengan segala lantunan nada

Rabu, 17 Juni 2009

Tarian Pena

Aku ingin mengawali sajak ini
Dengan pena tengadah dan
menantang semua kata dalam otakku

Namun, pada siapa kutohokkan pena ini?
Pada langit yang maha megah?
Pada hujan yang berlari kencang?
Pada embun kebisuan pagi?
Ataukah,
aku titipkan pada angin
hingga membawanya ke pelupuk matamu dan
menuliskan sajak pada putih yang selama ini kukenal baunya
kukenang beningnya dan kuhafal tajamnya?

Bukan.

Aku ingin mengawali sajak ini
Dengan pena menari
Pada selembar laut
yang tenang meliuk pelan
Meraba tentang makna yang lugu lalu
Membiarkannya menelan butirbutir api
yang dingin melangkahi akalku

Senin, 15 Juni 2009

Dik,


Sehari mengenalmu
Lewat butir butir mimpi
yang kau kemas
dalam tarian langit dan nyanyian ombak,
Kurasakan riuh hati yang tak pernah lelah
Hingga menelantarkanku di pojok sampah
yang kumuh dan lusuh

kumohon pada pena

temani aku menyiram kata malam ini
agar menjadi sebuah sajak
yang rindang esok hari

se detik berlalu

Tuhan
Sebelum Kau akhiri waktuku
Izinkan kutulis seuntai kata
Pada lembar putih suratku ini

“Yang terkasih jauh dari pandang. Yang terkasih dekat dengan hati. Hidup adalah karang di lautan. Tertendang,tertimpuk,terterjang,dan terhempas. Suatu saat akan roboh, hancur, dan berhamburan, menyatu dengan tanah, pasir, dan bebatuan.”

Tuhan
kupinta waktu se detik lagi
suratku belum kuakhiri
sebab esok tak tau lagi

“Yang tersayang sejauh bintang. Yang tersayang selalu terang. Aku bagai pasir tertampar angin. Aku bagai busur termakan lajur. Terombang-ambing seperti daun kering. Namun, aku tau. Jika kelak waktumu terkikis tipis, perahu cintamu tak akan terdayung terhuyung.”

Tuhan
Sebelum Kau sudahi waktuku
Sebelum se detik berlalu
Kupinta padaMu
“Jangan ia layu termakan waktu”

Semarang, 21052009
00.19

Semesta Pikun


Tentang laut yang terbahak
Tentang langit yang menari
Tentang tanah yang bernyanyi
Segala bahagia lenyap sudah
Berhimpit detak awan dan angin

Waktu berkeliaran tak tentu
Menyapa ilalang yang gersang dari sudut kota itu

Inilah zaman keasingan
Di mana semesta lupa waktunya
Semesta yang pikun
Menelanjangi catatan-catatan astronomi
Memerkosa para ahli theologi
Dan
Menelan garis garis peredaran
(Laut terbahak tersendak-sendak
Langit menari tak tau diri
Tanah bernyanyi sesuka hati
Bagai purnama di siang telanjang
Bagai pelangi di shubuh hari)

Oo siang yang dangkal
Tangismu disaksikan bebatuan
Nafasmu mengunyah dedaunan
Memisahkan percumbuan ular berpantat tebal
Yang tak hirau akan nalar pikiran

Oo malam yang dalam
Kau hadir sebagai lakon tak diundang
Dengan mata keranjang
Mencumbu bibir siang
Yang belum genap umurnya
Lalu,
Dengan kuat kau meniduri dan menghimpitnya
Seperti malam pertama jejaka tua

Inilah zaman keasingan
Di mana semesta lupa waktunya
Langit bagai kertas percetakan
Muncul berjuta catatan dan lautan warna
Merias wajah bahagia
jadi kalut penuh duka
Semarang 1206009

Kamis, 04 Juni 2009

Air Mata

Air mataku mengalir
menyusup melewati sela-sela kosong
lalu turun mendekati hidung

Air mataku mengalir
berjalan pelan
masuk menusuk
Ruh

Air mataku
Bagai ruh
Bagai ruh
mambunuh

Nyata


Aku lihat langit itu memerah
Aku lihat laut itu mengeruh
Aku lihat tanah itu menghitam

Lihatlah!

Mataku tak juling, apalagi buta
Otakku tak landai, apalagi gila