Rabu, 17 Juni 2009

Tarian Pena

Aku ingin mengawali sajak ini
Dengan pena tengadah dan
menantang semua kata dalam otakku

Namun, pada siapa kutohokkan pena ini?
Pada langit yang maha megah?
Pada hujan yang berlari kencang?
Pada embun kebisuan pagi?
Ataukah,
aku titipkan pada angin
hingga membawanya ke pelupuk matamu dan
menuliskan sajak pada putih yang selama ini kukenal baunya
kukenang beningnya dan kuhafal tajamnya?

Bukan.

Aku ingin mengawali sajak ini
Dengan pena menari
Pada selembar laut
yang tenang meliuk pelan
Meraba tentang makna yang lugu lalu
Membiarkannya menelan butirbutir api
yang dingin melangkahi akalku

Senin, 15 Juni 2009

Dik,


Sehari mengenalmu
Lewat butir butir mimpi
yang kau kemas
dalam tarian langit dan nyanyian ombak,
Kurasakan riuh hati yang tak pernah lelah
Hingga menelantarkanku di pojok sampah
yang kumuh dan lusuh

kumohon pada pena

temani aku menyiram kata malam ini
agar menjadi sebuah sajak
yang rindang esok hari

se detik berlalu

Tuhan
Sebelum Kau akhiri waktuku
Izinkan kutulis seuntai kata
Pada lembar putih suratku ini

“Yang terkasih jauh dari pandang. Yang terkasih dekat dengan hati. Hidup adalah karang di lautan. Tertendang,tertimpuk,terterjang,dan terhempas. Suatu saat akan roboh, hancur, dan berhamburan, menyatu dengan tanah, pasir, dan bebatuan.”

Tuhan
kupinta waktu se detik lagi
suratku belum kuakhiri
sebab esok tak tau lagi

“Yang tersayang sejauh bintang. Yang tersayang selalu terang. Aku bagai pasir tertampar angin. Aku bagai busur termakan lajur. Terombang-ambing seperti daun kering. Namun, aku tau. Jika kelak waktumu terkikis tipis, perahu cintamu tak akan terdayung terhuyung.”

Tuhan
Sebelum Kau sudahi waktuku
Sebelum se detik berlalu
Kupinta padaMu
“Jangan ia layu termakan waktu”

Semarang, 21052009
00.19